Penyembuhan Alami Saat Anak Sakit

Mungkin sudah cukup banyak sumber yang membahas cara penyembuhan alami ketika anak sakit. Disini saya ingin sharing saja bagaimana akhirnya saya cukup berani’ menerapkan self healing dan pengobatan alami saat Arfa sakit.
Saya ingin flashback sedikit, di awal menjadi ibu saya sangat panik saat Arfa sakit, apalagi penyakit kami ‘asma’ harus dirasakan oleh Arfa juga. Sebelum usianya 2 tahun, Arfa sangat sering sakit, bolak-balik ke dokter, dari mulai obat sirup sampai terapi uap. Sedih rasanya, sehingga setiap dia batuk ringan, flu atau demam, kami langsung memberikannya obat. Setiap ke dokter pasti dikasih antibiotik which is harus diminum sampai habis, Teorinya sudah cukup lama saya baca, kalau tidak semua flu atau batuk membutuhkan antibiotik, saya sangat ridho jika memang antibiotik diberikan karena indikasi infeksi bakteri, tapi kadang-kadang..lama-lama..kok ya tiap ke dokter dikasihnya antibiotik lagi. Toh ketika bakteri diberikan antibiotik secara berulang, si bakteri tersebut akan berevolusi, makin kuaaat melawan dan mengurangi tingkat efektivitas antibiotik. Ditambah menurunkan imunitas sang anak, sampai saya mempelajari kembali sebuah video by Dr. Tiwi dan dr. Reza”, silahkan cek disini Ibu adalah dokter terbaik bagi anak

Sebelumnya kita perlu mengetahui jika demam yang paling sering dialami anak merupakan reaksi alami tubuh ketika ada virus atau infeksi yang menyerang tubuh anak. Seperti halnya flu atau batuk pada umumnya. (penting: yang tidak disertai gejala lain). Jadi kalaupun anak mengalami sakit tersebut, sistem tubuhnya yang akan melawan dibantu dengan pengobatan atau terapi alami (penting: ini untuk sakit flu, batuk, demam, diare yang umum tanpa ada gejala lainnya). Jadi sejak saya benar-benar yakin ingin berusaha menerapkan pengobatan alami tersebut, saya membuat komitmen dengan suami. Yaa kami harus jadi tim sukses dan kompak. Kami tidak ingin membunuh imunitas Arfa dengan memberinya obat-obatan setiap sakit, menggunakan obat saat benar-benar dibutuhkan.

Eksperimen 1 : Sebulan yang lalu, Arfa flu dan demam (usia 2 tahun lebih). Suhu tertinggi dari demamnya 38c. Saat demam disuhu 38 saya langsung skin to skin (without clothes), ngepush dia untuk minum terus, sedikit tapi sering. Demamnya tidak stabil, naik turun. tapi saya tetap bertahan dan berfikir ini demam dan pilek biasa. untuk menu makanya saya pilih sayur bening (cari yang berkuah) ditambah (ini wajib bagi saya dan alhamdulillah dia suka buah) jeruk, pepaya untuk cemilannya. Pileknya hilang datanglah batuk. Saya mulai deg-deg an kalo Arfa batuk karena takut asmanya kambuh. Saya bujuk dia untuk minum madu dan air hangat. Sesekali dimasukan secara paksa hehehe a.k.a badan dipegang hidung dipencet. Sudah hampir seminggu batuknya belum hilang meski demamnya sudah turun. Sabaaar..batuk memang agak lama fikir saya, saya tetap bertahan. makin lama frekuensi batuknya berkurang hingga Arfa kembali fit.

Eksperimen 2 : Baru kemarin Arfa mendadak demam, seperti biasa saya makin santai kalo Arfa demam. Biasalah dia sudah makin aktif, pasti ada infeksi atau virus, so saya hanya sering memberinya air putih. Sampai puncaknya menjelang sore suhu badannya hampir 39, suami sudah mulai menekan saya untuk memberikan parasetamol. Tapi saya masih bertahan, nanti dulu kita coba rendam dia dengan air hangat. letakan mainan kesukaan dia ke ember yang di isi dengan air hangat. Dia asik berendam padahal biasanya dia tidak mau mandi air hangat. Setelah mandi, dia mengeluhkan kedinginan dan matanya perih. Saya mulai goyah..mungkin suhu badannya makin panas. karena skin to skin saat itu tidak memungkinkan, jadi hanya kepala dan lehernya yang saya tempelkan di bagian tubuh saya yang terbuka agar panasnya bisa pindah sejenak. Arfa tidur..tapi tidak lama dia bangun dan muntah. Semua yang dia makan keluar. Saya ingat kata Dr. Reza, seorang ibu harus belajar self healing, setelah dia bisa self healing dengan dirinya baru bisa mengobati anaknya. Tanpa panik, saya ambil minyak telon dan bawang merah. Sayangnya saya belum menemukan Essential OIL yang original seperti yang Dr. Reza gunakan, jadi saya menggunakan feeling saja.

Mungkin Arfa masuk angin juga, jadi kalo masuk angin obatnya bawang merah hahaha (ini sih nebak aja, soalnya tiap ada yang berdarah dikasih bawang merah, darahnya berhenti #loh). Lalu saya ambil garpu, saya mau mempraktekan Shonishin yang Dr. Reza contohkan. Shonishin sendiri adalah akupuntur jepang untuk anak tanpa jarum, hanya menggunakan peralatan kecil. Sayang tidak ada garpu atau sendok kecil jadi seadanya. Mulailah saya memijat bagian ”YANG” pada tubuh Arfa, saya oleskan minyak terlebih dahulu dan menggaruk dengan satu arah. Suami mulai complaint dan nanya terus ”itu gak perih kena garpu…kamu ngapain sih”

Saya menjelaskan dengan tertawa, tidak perlu khawatir karena ujung garpu ”nyaru” dengan ujung jari. kalau sakit toh Arfa daritadi udah nangis atau bergerak nolak.

Saya juga cukup amazed liat Arfa yang anteng menikmati Shonishin ini, biasanya kalau dipijit dia gak mau lama-lama. Apalagi bagian pada saat saya mengetuk-ngetuk garpunya di punggung badanya, dia sampai tertidur.

Arfa tidur moms, sebenarnya Shonishin ini tidak dianjurkan dilakukan jika panas tubuh anak diatas 37.8, saya termasuk yang nekat (jangan dicontoh). Saya pindahkan kepala dia ke tangan saya sehingga saya bisa merasakan suhu dari lehernya. Percaya gak percaya shubuh saya cek suhunya bact to normal, alhamdulillah….bahkan dia bangun agak siang dari biasanya. Keenakan ya de abis di pijit.

Setiap anak berbeda, terkadang kita tidak bisa menyamakan setiap treatment yang ada. Yang pasti naluri seorang ibu itu kuat, anak dengan sangat mudah bisa merasakan apa yang ibu rasakan.

“I will protect you until you are grown and then I will let you fly free, but loving you, that is for always.” — Charlotte Gray

Leave a Reply