Jangan Biarkan Stres Mengganggu Kesehatan Jiwa

Pernah mengalami stres sama pekerjaan? Hingga enggan masuk kantor atau sering absen karena ‘sakit’? Biasanya setiap orang yang memiliki rutinitas yang sama setiap harinya beresiko lebih besar untuk mengalami hal tersebut, gak cuma pekerja kantoran tapi ibu rumah tangga dan profesi lainnya. Saat ini 10% dari pekerja mengajukan cuti kerja karena depresi, sumber data lain menyebutkan 1 dari 6,8 orang mengalami masalah kesehatan jiwa di tempat kerja.

Kesehatan jiwa sama pentingnya dengan kesehatan fisik, keduanya saling berkaitan. Kesehatan pekerja menjadi penentu kesehatan anggota keluarganya dan lingkungan dimana pekerja tersebut tinggal dan berinteraksi. Jika banyak pekerja yang mengalami masalah kesehatan maka hal ini dapat membuat produktivitas kerja menurun dan biaya penanganan kesehatan meningkat. Untuk itu Kemenkes mengajak para pemangku kepentingan, akademisi, dunia usaha, keluarga dan individu untuk berprilaku sehat demi menjaga kesehatan jiwa. Kemenkes mengadakan acara temu blogger dalam rangka Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2017 yang jatuh pada tanggal 10 Oktober 2017 nanti. Acara tersebut berlangsung di Gedung Kemenkes dengan narasumber Dr. dr. Fidiansjah, Sp.KJ, MPH dan dr. Eka Viera, Sp.

Foto Bersama Blogger dan Staff Kemenkes
”Temu Blogger dalam rangka Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2017”
Narasumber: Dr. dr. Fidiansjah, Sp.KJ, MPH dan dr. Eka Viera, Sp

Menurut Dokter Fidiansjah kesehatan jiwa memiliki banyak kontribusi terhadap kesehatan tubuh. Beberapa penyakit muncul disebabkan dari stres pekerjaan, dimana pikiran merupakan pusat kejiwaan seseorang, jika hal tersebut terganggu maka fungsi tubuh dan segala manifestasinya juga ikut terganggu.  Proses kerja yang monoton, lingkungan kerja yang buruk dan perilaku pekerja itu sendiri menjadi penyebabnya. Kesadaran akan pentingnya kesehatan jiwa masih kurang, sehingga belum menjadi prioritas setiap pekerja.

UU kesehatan No. 36 tahun 2009 menyebutkan:

‘’Kesehatan adalah keadaan sehat baik secara FISIK, MENTAL, SPIRITUAL maupun SOSIAL yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara social dan ekonomis’’

Ada 4 aspek yang mempengaruhi kesehatan seseorang, sehingga terciptanya kesehatan yang paripurna. Sehat fisik dapat dilihat ketika badan kita bugar dan tidak sakit, sehat sosial ketika kita mampu berinteraksi dengan baik, dan dikatakan kita sehat jiwa ketika kita memiliki perasaan yang senang, mampu menyesuaikan diri dengan berbagai kondisi dan tempat serta kita dapat menerima segala perubahan, kelebihan maupun kekurangan orang lain. Lalu apakah penurunan kesehatan jiwa dapat menyebabkan seseorang menjadi ODGJ (orang dengan gangguan jiwa)?

Cepat marah, sering mengeluh hingga stres merupakan gejala  menurunnya kesehatan jiwa yang nantinya akan berdampak pada gangguan jiwa. Hah gangguan jiwa? Yup, gangguan jiwa yang sudah memerlukan bantuan ahli, ditandai dengan perubahan pikiran, perasaan dan perilaku yang membuat seseorang tidak dapat beraktivitas secara normal atau seperti biasanya. Jadi ketika rasa lelah berlebih, stres dan gejala ringan lainnya menumpuk tidak teratasi maka akan berdampak pada gangguan jiwa seperti :

  • Gangguan Bipolar :  Perubahan mood yang tidak stabil sehingga orang dengan gangguan ini memiliki energy yang berlebih, tidak butuh tidur, melakukan hal yang beresiko ketika moodnya meningkat, namun ketika moodnya turun ia akan merasa Depresi.
  • Depresi : Perasaan sedih dan kehilangan yang berlebihan, merasa bersalah, tidak ada harapan hidup dan tidak berharga. Kondisi depresi ini ditandai juga dengan gangguan pada bagian tubuh seperti terganggunya pola makan dan tidur. Beberapa orang yang depresi berujung pada tindakan bunuh diri.
  • Skizofrenia :  Muncul halusinasi yang tidak ada sumbernya dan emosi yang tidak sesuai.
  • Ansietas/cemas :  Cemas atau khawatir tanpa ada penyebab yang jelas, disertai dengan gejala otonomik seperti sakit kepala, berkeringat, jantung berdebar dan sebagainya.

Gangguan kejiwaan ini dapat menimbulkan hambatan dan kerugian bagi si penderita, keluarga maupun lingkungan, sehingga dibutuhkan pemulihan dan penyembuhan. Kita juga perlu menghindari diri kita dari gejala ringan atau gejala awal gangguan jiwa seperti STRES.

Seperti yang dr. Eka Viera, Sp sampaikan bahwa semua orang hakikatnya mengalami stress, Stres merupakan reaksi normal ketika seseorang diharuskan menyesuaikan diri terhadap suatu perubahan dari lingkungannya, baik secara fisik maupun emosional. Stres yang awalnya reaksi normal setiap orang akan menjadi bahaya jika stress tersebut terus berlanjut dan tidak dimaintain secara benar. Nah efek dari pekerja yang mengalami stres di tempat kerja akan mempengaruhi penurunan kinerja, berkurangnya produktivitas, hilangnya komitmen dan kepercayaan hingga terjadinya konflik antara para pekerja. Dokter Eka juga memaparkan akibat stres yang berdampak pada munculnya banyak penyakit di tubuh kita.

Akibat Stres

Setelah mengetahui gejala, pemicu dan akibat terganggunya kesehatan jiwa, kita perlu memperhatikan upaya untuk menjaganya. Seperti halnya Kemenkes yang secara konsisten membuat berbagai program dan gerakan nasional untuk membantu masyarakat sadar akan pentingnya kesehatan,  salah satunya program pemerintah GERMAS ‘’Gerakan Masyarakat Hidup Sehat’’. Kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat untuk berperilaku sehat. Sehingga kualitas hidup masyarakat membaik dan beban biaya pelayanan kesehatan dapat dialihkan ke pos lainnya. Optimalkan GERMAS dengan:

  • Membiasakan aktivitas fisik
  • Melakukan pemeriksaan secara berkala
  • Konsumsi sayuran juga buah-buahan

Selain GERMAS, kemenkes juga menyediakan aplikasi SEHAT JIWA yang bisa didownload dan install pada smartphone kita. Aplikasi SEHAT JIWA ini disediakan secara gratis, kita bisa langsung mendownload aplikasi tersebut di Google play atau mengakses www.sehat-jiwa.kemkes.go.id

Sehat Jiwa menyediakan banyak fitur yang bisa kita gunakan seperti Direktorat Bina Kesehatan Jiwa, laporan masyarakat, Info kesehatan, Info pelayanan dan Deteksi dini. Cuss langsung download aja.

Secara individu kita juga perlu melakukan upaya untuk menjaga kesehatan jiwa kita dengan mengubah kebiasaan buruk menjadi healty lifestyle.  Nah berikut  ini tips menjaga kesehatan jiwa yang bisa kita bagi juga untuk teman-teman kerja dan anggota keluarga:

  1. Menjaga Spiritualitas

Ini menjadi point pertama karena banyak kejadian depresi yang berakhir bunuh diri disebabkan kurangnya keimanan, hilangnya kepercayaan bahwa Allah memegang kendali dan solusi dari semua permasalahan yang kita alami. Keyakinan akan adanya harapan dan kedamaian hati dapat kita temukan melalui agama. Kesehatan badan, jiwa dan spiritual saling terkait, sehingga dapat menjadi cara kita meminta kemudahan, pertolongan serta panduan yang pasti. Jangan tinggalkan ibadah yang wajib dan hiasi yang wajib dengan yang sunnah (noted for my self of course). Selagi kita terus mendekatkan diri pada sang pencipta maka percayalah semua masalah kehidupan ini sudah pasti bisa diatasi.

  1. Sediakan waktu untuk diri sendiri

Semua orang membutuhkan waktu untuk melakukan kegemaran atau sekedar beristirahat sejenak dari rutinitas. Kita harus menemukan cara membuat diri sendiri BAHAGIA dan relax. Bisa dengan menonton serial drama, nyalon, jalan-jalan ke taman, atau mendengarkan musik.

3.  Istirahat dan Gerak Badan

Perubahan rutinitas itu baik untuk kesehatan jiwa, menyelingi aktifitas bekerja kita dengan sedikit peregangan otot misalnya sekedar menghela nafas, mengganti posisi duduk, meluruskan kaki, menggerak-gerakkan kepala atau memejamkan mata (kalau ini hati-hati ya, nanti kebablasan). Jangan lupa untuk istirahat yang cukup, pastikan porsi tidur kita cukup dengan waktu tidur yang benar. Sesekali kita bisa lakukan gerak badan sebelum berangkat kerja.

Para ahli berpendapat bahwa gerak badan atau olahraga akan memicu zat kimia di otak yang membuat kita` merasa nyaman. Gerak badan yang teratur juga meningkatkan kepercayaan diri dan memperbaiki konsentrasi, manfaatnya banyak bukan. Gerak badan tidak melulu olahraga berat seperti ke gym atau lari berpuluh-puluh km :D, tapi bisa berjalan kaki, mengerjakan pekerjaan rumah tangga (nah ini gerak badannya buibu yess), atau berlari-lari kecil.

  1. Kelola Stres dengan CURHAT

Ternyata curhat itu  salah satu cara terbaik menyalurkan rasa stres. Seperti yang disampaikan Dokter Eka Viera curhat membuat seseorang merasa mendapat dukungan, merasa di dengar, dan merasa dirinya tidak sendiri. Dukungan moril yang sangat membantu menyembuhkan rasa stress. Selain itu biarkan emosi dari rasa stres keluar dengan cara bercerita atau menangis. Hal ini menjadi biasa ya untuk kaum perempuan, namun tidak biasa bagi laki-laki, kecenderungan kita untuk memberi label bahwa curhat dan menangis adalah milik wanita, padahal itu salah satu cara mengeluarkan emosi. So pesan dari kedua narasumber kemarin, biarkan laki-laki dan anak laki-laki kita menangis atau bercerita tanpa harus kita sebut mereka cengeng. Pengelolaan stres yang baik akan membantu jiwa kita tetap sehat.

  1. Hindari Alkohol dan Obat Terlarang

Sebagian orang mencari alternatif cara cepat untuk menghilangkan stres dan depresi, yaitu dengan konsumsi minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang. Efek sementara yang dihasilkan justru membahayakan kesehatan tubuh. Minuman dan obat-obatan tersebut memiliki efek ketergantungan yang tidak menyelesaikan masalah justru menambah masalah baru. Jauhi jalan pintas yang merugikan dan membuat kita menyesal di kemudian hari.

  1. Menerima Diri Sendiri dan Menetapkan Tujuan yang Realistis

Allah sang maha pencipta sudah memberikan dan menentukkan porsi yang sesuai dari diri kita dan sejak kita dilahirkan, so banggalah dan syukuri diri kita sendiri. Semuanya sudah pada tracknya tanpa harus ditambah atau dikurangi, FOKUSlah pada kelebihan kita, sehingga yang perlu kita lakukan adalah menjaga dan memanfaatkan kecerdasan, ilmu dan kemampuan kita agar bermanfaat  untuk orang lain. Sama halnya dalam menentukan sebuah keinginan atau cita-cita, cobalah untuk realistis, sesuai dengan kemampuan yang kita miliki.

  1. Mintalah Bantuan

Jika masalah yang kita alami sudah terlalu berlebihan dan kita merasa sudah tidak dapat mengatasinya, jangan ragu untuk meminta bantuan, bisa kepada orang terdekat kita, sahabat  atau tenaga ahli. Kita juga bisa bergabung dengan support group atau komunitas yang dapat memberikan motivasi, saran bahkan jalan keluar. Berinteraksi dengan berbagai kalangan membuat kita mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman hidup. Bantuan medis juga dibutuhkan ketika masalah yang kita hadapi sudah sangat menggangu diri sendiri, orang lain disekitar kita dan mempengaruhi hidup kita dalam waktu yang lama, jumpai konselor dan pelayanan medis terdekat.

  1. Keseimbangan Hidup dan Bahagialah

Aturlah waktu kerja sesuai porsinya, jangan sampai pekerjaan mengendalikan kita dan membuat kita lupa untuk membahagiakan diri sendiri dan orang tersayang. Waktu kerja dapat kita atur dengan mengetahui peran kerja dan membagi beban pekerjaan kita sesuai kapasitas kita. Nikmati juga waktu senggang seperti saat istirahat makan siang atau saat kita beribadah, biarkan pekerjaan berada ditempatnya alias saat kita berada di meja kerja saja, jangan sampai membuat kita makan dan beribadah dengan deretan pikiran DL yang mengganggu, yang terakhir BAHAGIA. Hal yang saya sedang usahakan untuk membuat apa yang saya lakukan menjadi menyenangkan. Bahagia ditentukan oleh diri kita sendiri bukan orang lain, jadi cuma kita yang tau bagaimana dan hal apa yang bisa membuat kita Bahagia. Biasanya saya mendengarkan musik sambil nyanyi-nyanyi saat mencuci tumpukan piring yang menggunung, meletakkan tanaman hijau di dapur, atau saya mengajak anak-anak keluar rumah sekedar makan es krim saat mood lagi swing bgt. Yaa life is not perfect, memang gak bisa untuk melulu bahagia, kan hidup kayak roda. Tapi cobalah untuk terus menemukan dan merasakan hal-hal yang bikin kamu bahagia.

 

12 Comments

Leave a Reply