Education,  Parenting

Mengenal Helicopter Parenting, Ciri dan Dampaknya

‘’Tidak ada ibu yang sempurna, yang ada hanya Ibu yang terus belajar karena parenting it’s not a competition, it’s about  journey, @ria_andika’’

Seiring berkembangnya dunia saat ini , semakin banyak ya moms ilmu pengetahuan yang bisa kita dapatkan. Termasuk ilmu mengenai pola asuh dan berbagai istilah parenting lainnya. Kesempatan dan kemudahan untuk kita para moms terus belajar.

Sabtu, 23 Februari 2019 aku berkesempatan untuk menghadiri 1st Halomoms Community Gathering. Super excited karena ada talkshow yang akan disampaikan oleh salah satu Psikolog favoriteku, Rayi Tanjungsari M.Psi. Ini menjadi jumpa yang kesekian kali.

Psikolog Rayi Tanjungsari, M.Psi dan Host dari HaloDoc – Dokumen Pribadi

Brood en Boter Café menjadi venue acara gathering yang dihadiri oleh para moms dari HaloMom dan MomBlogger Community.

Source : MomBlogger Community

 

Talkshow ini mengupas hal baru yang sebelumnya belum pernah aku dengar, yakni tentang pola asuh ‘Helicopter Parenting’.

Source : letgrow.org
Helicopter Parenting ini merupakan pola asuh yang mengintervensi atau ikut campur terhadap semua kegiatan anak. Jadi perilaku orang tua layaknya sebuah helicopter yang bergerak terus di atas semua aktifitas yang dilakukan anak. Kekhawatiran yang berlebih hingga mengambil alih semua keputusan yang sebenarnya adalah hak si anak.

Wajar sih moms ketika kita khawatir saat anak bermain di luar rumah atau diam – diam kita mengintip apa saja yang ia lakukan saat bersama temannya, bahkan keinginan untuk selalu didekatnya agar apa yang anak butuhkan saat itu bisa kita berikan. Hal itu terjadi karena naluri kita sebagai orang tua yang selalu ingin memastikan si anak bisa beraktifitas dengan aman dan nyaman.

Namun ketika kita sudah mulai mengerjakan PR anak, menentukan berbagai jadwal les tanpa mengkomunikasikan ke anak hingga menghubungi guru dan teman-temannya untuk menanyakan aktifitas apa saja yang anak sudah lakukan, okhh moms hal ini menjadi berlebihan karena kita sudah overcontrolling (terlalu mengkontrol).

Seperti yang disampaikan Psikolog Rayi Tanjung bahwa Helicopter Parenting dapat terjadi ketika orang tua sudah terlalu protektif, bereaksi berlebihan, terlalu mengkontrol, memberi jadwal terlalu padat hingga menuntut akademis yang tinggi.

Dampak dari helicopter parenting ini memang tidak langsung terlihat moms tapi akan berdampak pada pembentukan karakter dan  perkembangan anak  di masa depan.

Dampak Helicopter Parenting

  • Anak Tidak Percaya Diri

Penelitian membuktikan bahwa anak dengan helicopter parenting lebih berpotensi tidak mampu menghadapi tantangan di masa depan terutama di lingkungan sekolah. Anak terbiasa diatur dan dikontrol sehingga ia tidak percaya akan kemampuan dan potensi yang dimilikinya.

  • Kurang mampu untuk meregulasi emosi. Anak cenderung mudah depresi dan kurang puas dengan kehidupannya kelak
  • Anak menjadi manja, sehingga kelak sulit untuk memiliki motivasi dan inisiatif
  • Mudah mengalami masalah kesehatan di masa depan

Ternyata kekhawatiran kita yang berlebihan dan overcontrolling dapat membatasi perkembangan dan kecerdasan anak. Kelak ia menjadi pribadi yang mudah bergantung kepada orang lain karena kurangnya rasa percaya terhadap dirinya sendiri. Pastinya hal tersebut tidak ingin terjadi kepada anak – anak kita ya moms.

Berikut sedikit tips bagaimana agar terhindar atau berhenti menjadi orang tua yang memiliki pola asuh layaknya Helicopter.

  1. Identifikasi Rasa Cemas

Sebagai orang tua, tentunya rasa cemas terhadap anak pasti ada. Takut ia jatuh saat bermain, takut ia kelelahan, takut sakit dll. Namun kita harus bisa mengidentifikasi apakah rasa cemas kita sudah sewajarnya, sudah pada tempatnya dan jangan lupa untuk self healing terlebih dahulu. Stop..tarik nafas…

  1. Yakinkan Diri

Setelah berdamai dengan rasa cemas yang muncul, coba yakinkan diri jika

‘’Anakku perlu yang namanya eksplorasi, eksperimen dan belajar bersosialisasi dengan lingkungan..tanpa aku’’

‘’Anakku akan aman, sesekali aku akan lihat dan memastikan lingkungan ekplorasinya memang sudah aman’’

‘’Akhh gak apa-apa lah kalau dia terjatuh, kalaupun terjatuh aku sudah yakin resikonya kecil. Dia perlu mengetahui dan merasakan sedikit goresan, It’s oke kalau jatuh sedikit’’

  1. Reset Pikiran

Bayangkan moms reaksi positif anak saat ia dibiarkan mencoba. Semangatnya, rasa bahagianya, hingga bagaimana ia bisa belajar dari proses tersebut.

  1. Take Action

Membangun Interaksi Positif Dengan Anak

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk bisa menjalin interaksi positif dengan anak. Seperti membuat ketertarikan (Engagement) moms. Mulailah dengan melakukan hal – hal yang disukai anak, misalnya aktifitas bercerita. Saat aktifitas tersebut kita bisa memberikan pemahaman ke anak bahwa berinteraksi dengannya merupakan hal yang menyenangkan. Moms juga bisa mencoba beberapa permainan struktur, seperti tak patung dan permainan kata. Selain itu buat anak merasakan bahwa ia disayang dengan apa adanya, tanpa syarat.

Semoga kita tidak termasuk orang tua yang menerapkan pola asuh Helicopter ini ya moms. Biarkan anak tumbuh optimal dengan memberikan ia kesempatan untuk bereksplorasi, bereksperimen dan bersosialisasi setelah memastikan resiko dan keamanan lingkungannya terlebih dahulu.

 

Leave a Reply